Dapat Cap Negatif, IeSPA Akui Terpaksa Kurangi Kompetisi Game Shooting

JawaPos.com – Banyaknya stigma negatif pada game shooting turut membuat IeSPA (Indonesia e-Sports Association, Red) cukup kewalahan dalam menyelenggarakan kejuaraan. Mereka terpaksa menghindari genre tersebut dengan mengurangi kompetisinya karena dicap mempertontonkan kekerasan dan bisa memberikan pengaruh buruk pada pemain dan penontonnya.

Hal itu diakui oleh Sekjen IeSPA, Prananda. Dia mengaku harus lebih berhati-hati dalam memilih game yang akan dipertandingkan di sebuah turnamen.

“IeSPA agak menghindari genre game itu. Kita cari aman lah. Kita udah mulai mengurangi genre itu. Takutnya ada protes dari komisi anak dan organisasi lainnya,” jelasnya di kantor Kemenpora, Senayan, Senin (4/2).

Prananda menambahkan, keputusan ini dilakukan mengingat e-Sports direncanakan akan menjadi cabang olahraga eksebisi di Olimpiade Tokyo 2020. IOC (International Olympic Committee, Red) sudah melarang keras game shooting untuk diikutsertakan karena berseberangan dengan nilai Olimpiade.

Di sisi lain, Prananda mengaku agak dilema dengan adanya peraturan tersebut. Sebab, atlet-atlet di nomor game shooting akan dirugikan dengan adanya pelarangan ini. Namun, karena harus fokus mengembangkan e-Sports, Pradana menuturkan bahwa IeSPA mau tidak mau harus memgikuti aturan dan mengurangi penyelenggaraan turnamen game shooting.

“Kalau nggak boleh diadakan di SEA Games, Asian Games, atau nantinya di Olimpiade, buat apa kita adakan lagi? Kecuali jika nanti genre shooting itu muncul di saalah satu event besar tersebut, baru kita adakan lagi kompetisi game shooting. Karena IeSPA kan fokusnya memang ke tiga ajang itu,” ucapnya.

Namun, kata Prananda, para atlet e-Sports di nomor shooting masih bisa mengikuti turnamen lain yang diselenggarakan oleh sebuah event organizer (EO) luar yang tidak terikat dengan federasi e-Sports manapun.

“Untuk EO diluar, seperti IESL, memang berjalan sendiri. Makanya Counter Strike GO ada di sana. PUBG juga ada di sana. Kalau kita cari game yang aman saja lah,” tuturnya.

Editor           : Banu Adikara
Reporter      : Bintang Rahmat