Masih Dicap Kegiatan Tidak Mendidik, e-Sports Harus Disosialisasikan

JawaPos.com – Sentimen negatif yang masih melekat pada olahraga e-Sports di kalangan masyarakat luas membuat dua tim e-Sports papan atas Evos Esports dan Rex Regum Qeon (RRQ) gerah. Mereka menilai publik masih membutuhkan sosialisasi mengenai cabang olahraga baru itu.

CEO RRQ Adrian Pauline menilai perlu ada sosialisasi berkelanjutan mengenai e-Sports. Menurutnya, peran pemerintah saja dinilai belum cukup untuk memberi pengetahuan kepada khalayak banyak mengenai olahraga digital itu.

“Perlu banget (sosialisasi, Red) karena ini juga masih baru. Para orang tua juga biasanya komplain nanti kalau main terus bisa ganggu sekolah, dan lain-lain. Jadi sosialisasi ke anak-anak penting, ke orang tuanya juga tidak kalah penting,” jelasnya, Selasa (26/2).

Dalam beberapa kali talkshow yang digelar, Adrian mengatakan bahwa ia juga tidak bisa hanya mengandalkan para pemainnya saja untuk berbicara. Dia juga harus turun langsung untuk berbicara kepada para orang tua mengenai dampak positif dari e-Sports.

“Kadang-kadang saya selalu ngomong juga dari perspektif saya yang bukan seorang pemain. Jadi agar lebih terstruktur, pemain di RRQ yang berusia dibawah 18 tahun harus ada persetujuan dari orang tua juga melalui adanya tanda tangannya di dalam kontrak. Jika tidak ada ya nggak bisa gabung,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Co Founder Tim Evos Esports Hartman Harris. Menurutnya, efek candu bermain game tidak sepenuhnya dapat dijadikan kambing hitam oleh masyarakat. “Saya rasa hal apapun bisa jadi candu. Bisa aja ada orang yang candu main bola, jadi atlet sepak bola. Tapi setiap hari nendang bola 8 jam belum tentu juga dia bisa jadi David Beckham,” tuturnya.

Hartman menuturkan, konsep yang sama sebetulnya juga terjadi di dunia game. “Sama dengan di e-Sports. Anak main 8-10 jam, belum tentu jadi atlet. Kuncinya adalah dia mau belajar. Jadi kunci terbesar itu di olahraga manapun adalah kemauan belajar, baik itu belajar taktik, maupun trik,” sambungnya. 

Editor           : Banu Adikara
Reporter      : Bintang Rahmat