Papua dan DKI Rayu Atlet Muaythai NTB dengan Kibasan Miliaran Rupiah

JawaPos.com – Menjelang bergulirnya PON XX 2020, perpindahan atlet semakin ramai. Provinsi yang ingin meraih banyak medali mulai memburu atlet yang potensial meraih prestasi.

Adalah Adit Agustia yang kini tengah jadi incaran dua provinsi. Atlet muay thai asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini kini menjadi incaran dua provinsi, Papua dan DKI.

Pengprov DKI yang tidak memiliki banyak atlet muay thai merayu Adit untuk pindah dengan sodoran Rp 1,2 miliar. Bahkan, tuan rumah PON 2020, Papua, menawarkan mahar Rp 2,5 miliar agar Adit sudi bergabung ke mereka.

Sekretaris Pengprov Muay Thai Indonesia (MI) NTB Ida Bagus Diantara mengatakan, Papua menggoda Adit dengan angka yang cukup tinggi. Dia mendapat tawaran itu usai berlaga di kejurnas Jakarta, 25 November lalu.

“Turun dari ring bertanding langsung ditawar Papua,” kata Bagus kepada Lombok Post (Jawa Pos Group).

Hanya saja, keinginan Papua memiliki Adit mendapat penolakan Pengprov. Karena Pengprov masih menghargai KONI NTB. “Kita tolak mentah-mentah tawaran Papua,” tegasnya.

Bukan hanya Papua yang menawar Adit untuk pindah. DKI Jakarta juga berminat. “DKI tidak memiliki atlet sehingga berhasrat menarik Adit,” ujarnya.

Sama seperti penolakan yang dilakukan terhadap Papua, pengurus pengprov MI NTB juga bersikukuh tak akan memberikan rekomendasi. “Kami tetap tak mengizinkannya,” tegas Ida Bagus.

Bisa dimaklukmi jika NTB tak melepas Adit meski ditawari miliaran rupiah. Pasalnya, Adit adalah atlet andalan NTB untuk meraih medali emas di PON Papua. Dia masuk di Pelatda utama tahun ini. “Kita targetkan Adit raih medali emas,” ucapnya.

Adit sudah pernah meraih medali perak di kejuaraan Asia, Desember lalu. Catatan prestasi itu membuat NTB makin optimistis dia bisa meraih emas di PON 2020. “Saya yakin Adit pasti bisa,” ujarnya penuh optimis.

Di sisi lain, Ida Bagus berharap Adit terus meningkatkan kemampuannya. Sehingga, target medali emas dapat tercapai. “Mudahan target kita bisa terpenuhi,” harapnya. 

Editor           : Agus Dwi W
Reporter      : jpg